ff; -->

♥Ayu Sulistiyanti♥

♥ayuesulis.blogspot.com♥

Pages

  • Beranda

♥Blog Archive♥

  • ▼  2012 (9)
    • ►  November (1)
      • ►  21 Nov (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  03 Mar (4)
    • ▼  Februari (4)
      • ▼  06 Feb (1)
        • Perahu Kehidupan
      • ►  04 Feb (2)
        • Pertanda Kematian
        • Kisah 2 Bagian Hati
      • ►  01 Feb (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (6)
      • ►  22 Nov (2)
      • ►  17 Nov (1)
      • ►  11 Nov (2)
      • ►  07 Nov (1)

♥Followers♥

♥Blog List♥

♥A Thousand Years♥


Music Player

Senin, 06 Februari 2012

Perahu Kehidupan

Diposting oleh AyuSulistiyanti di 12.19 1 komentar











Saat kita lahir, sebuah perahu telah menanti dengan dayung kuat yang siap mengayuh.
Perahu-perahu itu pun berlayar menuju lautan ganas yang kusebut kehidupan.
Sebagian dari kita membuang dayungnya.
Mereka berlayar mengikuti arus sehingga terjebak dalam tornado seks bebas atau pusaran kejahatan.
Sebagian lagi, mencoba melawan arus dengan mengayuh dayung menuju dermaga keberhasilan.
Tapi, tak semuanya berhasil karena kabut kesesatan tak akan tinggal diam, ia akan menutupi jalan sehingga mereka tersesat.
Dan hanya mereka yang bisa melihat cahaya mercusuarlah yang akan kembali menuju jalan yang benar.
Dari sekian banyak perahu, di sanalah kamu akan duduk.
Kebingungan dengan apa yang akan kau lakukan.
Perahu lain telah berlayar dan kau juga harus berlayar.
Kau ingin mengikuti perahu lain tapi takut tak sampai.
Hanya satu kalimat yang akan membimbingmu "Percayalah pada hatimu dan jalan akan terlihat."

Sabtu, 04 Februari 2012

Pertanda Kematian

Diposting oleh AyuSulistiyanti di 08.52 0 komentar

"Eh Rin Rin, sini deh." kata temanku itu dari arah dapur.
"Iya ada apaan sih emang?" jawabku sambil menghampirinya.
"Masa tadi kaya ada darah gitu di sini, nah iya di sini," katanya sambil menunjuk ke lantai dekat dispenser.
Aku segera menghampirinya. "Mana? Mana?" dan aku pun kaget setelah melihat ada bercak darah di situ.
"Nih, nih liat apa? Benerkan? Liat kan?"
Aku pun membatin, "Ya Tuhan, pertanda apalagi ini?"

*esok harinya*

Kejadian itu kembali terulang namun di tempat yang berbeda. Aku terus aja berdoa, agar kejadian seperti waktu itu tak terjadi lagi.
"Rin, bengong bae," kata Ricky sambil menepuk pundakku. Sontak aku langsung kaget.
"Ah engga, ga papa ko." jawabku.
"Bener ga papa? Ko kayanya gelisah banget?"
"Beneran. Tenang aja deh."
"Yaudah kalo gitu jan bengong lagi ya."
Aku hanya mengangguk, tapi selama pelajaran aku jadi ga konsen. Sumpah ya, ga tenang banget jadinya. Sampai akhirnya aku di tegur guru karna tak memperhatikan pelajaran.
"Rina, coba jawab pertanyaan yang ada di papan tulis!" kata guru itu.
"Hah.. Eng.. saya ga ngerti pak," jawabku.
"Makanya kalo lagi di jelasin tuh dengerin, jangan melamun mulu," katanya sambil membentakku. Aku hanya tertunduk lemah. Malu rasanya dibentak seperti itu. Hingga sampai bel pulang berbunyi, aku hanya terdiam.
Saat sampai di rumah, aku segera menuju ke kamar dan siap-siap untuk tidur siang. Tapi saat aku hendak memejamkan mata, bayangan itu datang lagi, bayangan saat Firda (sahabatku) meninggal tertabrak motor. "Ya Tuhan, apa maksud semua ini? Aku tak ingin semuanya terulang lagi," batinku. Ku tenangkan diriku dengan mencuci muka, lalu aku berkaca tapi bayangan itu tetap ada. Sejenak aku menangis dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku pun keluar dari kamar dan menonton tv di ruang tengah. Tapi tiba-tiba lampu mati, aku bingung kenapa yang mati hanya rumahku saja? Padahal aku sudah membayar listrik. Dan tiba-tiba pintu terbuka, angin yang kencang pun masuk. Aku mulai ketakutan, aku ambil bantal yang ada di sofa dan memeluknya. Tapi itu semua percuma, justru malah bertambah horor di rumahku ini. Aku yang saat itu sudah ketakutan, hampir saja menangis. Sesaat kemudian ada bayangan yang datang menghampiriku, dan bayangan itu pun berkata, "Rina, kamu harus memberi tau Ricky kalo ayahnya akan meninggal. Dan hanya kamu yang dapat membantunya. Jika tidak, kamu akan melihat ayah Ricky meninggal dengan sangat mengenaskan." Bulu kudukku mulai berdiri, lalu aku menangis. Aku takut, aku tak bisa melakukannya. Tapi aku juga tak ingin melihat Ricky sedih. "Ya Tuhan, bantu aku untuk menyelesaikan semuanya."
Aku terduduk lemah di sofa, sampai akhirnya aku tertidur. Tapi malamnya, saat aku bangun, dia datang lagi. Sosok itu, sosok yang menghantuiku siang tadi.
"Apa mau kamu? Buat apa kamu selalu menggangguku?" kataku.
Dia pun mendekat, semakin dekat, dan sangat dekat. Dia menyentuh dadaku lalu berkata, "Gunakanlah perasaanmu jika kamu tak ingin semuanya terjadi."
Sesaat aku tertegun, apa maksud dari kata-kata itu. Tapi seketika itu juga sosok itu kembali menghilang. Namun dia kembali hadir di mimpiku. Dia kembali menghantuiku.

*keesokan harinya*

--kring kring--
Suara telpon pun berbunyi. Aku segera berlari menuju ruang tamu dan mengangkat telpon.
"Hallo ini siapa?" tanyaku.
"Rin... Rin.." jawab Ricky sambil menangis di ujung telpon sana.
"Kenapa Ric? Kenapa? Mengapa kamu mengangis?" aku mulai panik.
"Ayah Rin... Ayah... Ayahku meninggal."
"Hah? Kapan? Ya Tuhan, aku turut berduka cita atas kepergian ayahmu. Sudah jangan sedih lagi ya Ric, mungkin Tuhan telah merencanakan semuanya," kataku mencoba membuatnya tegar.
"Tapi Rin, aku sayang Ayah. Aku butuh ayah."
"Iya aku tau Ric. Tapi ini semua sudah terjadi. Ini semua takdir Tuhan. Yaudah, nanti aku akan ke rumah kamu."
Telpon pun ditutup.
Aku merenung, "Mengapa aku tidak memberi tau Ricky saat itu? Mungkin jika aku memberi taunya ini semua tidak akan pernah terjadi. Bodoh sekali aku ini. Ya Tuhan, maafkan aku." kataku dalam hati sambil menangis.
Aku kembali ke kamarku, tapi ternyata di kamar ada mereka. Mereka... Ayahnya Ricky dan Firda, mereka sedang duduk di tepian ranjang. Mereka menghampiriku dengan tubuh yang telah hancur dan penuh darah. Aku ketakutan dan menangis.
"Kalian mau apa? Kenapa kalian semua ada di sini?" tanyaku.
"Kami ingin mengajak mu ke alam kami. Karna kamu lah yang telah membuat kamu seperti ini. Agar kamu tau bagaimana rasanya jadi kami. Kenapa dulu kamu tidak pernah memberi tau kami jika kamu telah mengetahui semua ini sebelumnya? Mengapa?" kata Firda.
Tiba-tiba dia mencekikku. Aku berteriak, tapi... Suaraku tidak muncul sama sekali. Aku kembali memangis. Dan Firda pun melepaskan cekikannya. Dia menarik tanganku dan menuntunku ke cermin besar. Di cermin itu tampak kejadian saat Firda dan Ayah Ricky hendak meninggal. Aku hanya terdiam dan terus menangis."Kini aku tau apa mau kalian. Firda, Ayah Ricky, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kalian seperti ini. Maafkan aku," kataku.
Firda menggenggam tanganku, dan dia meneteskan air mata di tanganku. Tapi... ternyata air mata itu berubah menjadi darah, dan darah itu pun menghilang. Seakan masuk ke dalam tanganku. Tubuhku gemetar, dan terasa berguncang. Sesaat kemudian aku sudah tak sadarkan diri. Saat aku bangun, aku sudah berada di makam Firda.
Ku liat sekeliling, kuburan ini nampak sangat menyeramkan. Dan ku liat tubuhku dipenuhi darah pada bagian tangan. Firda datang, ia kembali datang. Dia tertawa layaknya kuntilanak. Sekejab kemudian darah itu kembali menghilang. Firda menghampiriku dengan gaun putih yang sangat indah, namun gaun itu penuh darah. Dia memelukku, lalu menghilang begitu saja.
"Ya Tuhan, kenapa lagi ini? Apa maksud semuanya? Apa kau hendak mencabut nyawaku? Jika itu mau-Mu, aku ikhlas ya Tuhan. Aku ikhlas," batinku.
Aku pun pulang, tapi sungguh malang nasibku ini. Di tengah perjalanan ada sebuah truk tronton yang menabrakku. Kepalaku hancur berkeping-keping. Dan bagian tubuhku yang lain entah ada dimana. Kini, aku dapat menemani Firda, sahabatku. Terima kasih atas semuanya Firda. :")
Time: 04/02/2012 08:35:04

Kisah 2 Bagian Hati

Diposting oleh AyuSulistiyanti di 07.12 0 komentar








Bila diumpamakan hatiku terdiri dari 2 bagian.
Bagian yang tergambar dengan pulpen dan pensil.
Hati pensilku selalu terisi namun terus terhapus dengan penghapus yang bernama benci.
Sedangkan, hati pulpenku kosong sampai kau mengisinya.
Penghapus pun datang dan berusaha menghapus namamu.
Tapi namamu tetap tertulis di sana.
Penghapus tak tinggal diam, ia memanggil Tip-X.
Tip-X datang dan berusaha menghapusmu.
Cairan putihnya menutupi dan hati pulpenku kembali kosong.
Tapi namamu tidak terhapus.
Hanya tertutup cairan putih bernama salah paham.
Suatu saat aku yakin, cairan putih itu akan hilang dan namamu akan bersinar kembali.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)
 

♥Ayu Sulistiyanti♥ Girly Ayu Sulis | Blogger